Apa yang Sebenarnya Kita Cari dari Seorang Pasangan?

Ketika ditanya tentang pasangan ideal, kita mungkin sudah memiliki beberapa kriteria dalam pikiran.

Seseorang yang mapan. Satu frekuensi. Humoris. Perhatian. Komunikatif. Bisa diandalkan. Atau seseorang yang selalu punya waktu untuk kita.

Memiliki preferensi tentu bukan sesuatu yang salah. Kita semua membawa pengalaman, nilai, dan harapan masing-masing ketika memasuki sebuah hubungan.

Namun, pernahkah kita mencoba melihat sedikit lebih dalam?

Mungkin yang sebenarnya kita cari dari seorang pasangan bukan hanya tentang siapa orangnya, tetapi juga tentang bagaimana kita ingin merasa ketika bersamanya.

Di Balik Kriteria Pasangan, Ada Kebutuhan Emosional

Kriteria yang kita miliki sering kali tidak muncul begitu saja. Di baliknya, bisa terdapat kebutuhan emosional yang ingin kita dapatkan dalam sebuah hubungan.

Ketika berkata, “Aku ingin pasangan yang komunikatif,” misalnya, mungkin yang sebenarnya kita butuhkan adalah perasaan didengar dan dipahami.

Kita ingin bisa bercerita tanpa merasa diabaikan. Kita ingin pendapat kita memiliki tempat. Kita ingin konflik dapat dibicarakan, bukan didiamkan atau dihindari.

Begitu pula ketika kita mengatakan, “Aku ingin pasangan yang perhatian.”

Perhatian mungkin bukan sekadar menerima pesan setiap pagi atau ditanya sudah makan atau belum. Di balik keinginan tersebut, bisa jadi ada kebutuhan yang lebih dalam: ingin merasa penting bagi seseorang.

Kita ingin keberadaan kita diperhatikan. Perasaan kita dipertimbangkan. Hal-hal kecil tentang diri kita diingat.

Bukan karena pasangan harus selalu memenuhi setiap kebutuhan kita, tetapi karena merasa dianggap penting dapat membantu menciptakan kedekatan emosional dalam sebuah hubungan.

“Aku Ingin Seseorang yang Bisa Diandalkan”

Keinginan memiliki pasangan yang dapat diandalkan juga bisa memiliki makna yang lebih dalam.

Mungkin kita sedang mencari rasa aman.

Rasa bahwa ketika menghadapi masalah, kita tidak selalu harus menghadapinya sendirian. Rasa bahwa perkataan dan tindakan pasangan cukup konsisten sehingga kita tidak terus-menerus menebak posisi kita dalam hubungan.

Rasa aman dalam hubungan bukan berarti tidak pernah ada konflik, perbedaan pendapat, atau kekecewaan.

Justru rasa aman dapat tumbuh ketika dua orang mengetahui bahwa konflik dapat dibicarakan, kesalahan dapat diakui, batasan dapat dihormati, dan perbedaan tidak selalu berarti hubungan akan berakhir.

“Aku Ingin Diterima Apa Adanya”

Kalimat ini mungkin menjadi salah satu harapan yang paling sering muncul ketika berbicara tentang pasangan.

Kita ingin seseorang yang menerima kekurangan, kebiasaan, masa lalu, bahkan bagian-bagian diri yang mungkin belum sepenuhnya kita sukai.

Namun, di balik keinginan untuk diterima apa adanya, bisa terdapat kebutuhan lain yang sangat manusiawi: keinginan untuk tetap menjadi diri sendiri tanpa takut kehilangan cinta.

Hubungan yang sehat bukan berarti dua orang harus selalu sama atau menerima setiap perilaku tanpa batas.

Kita tetap dapat bertumbuh, berubah, saling memberikan masukan, dan belajar menjadi pasangan yang lebih baik.

Namun, proses tersebut idealnya tidak membuat seseorang merasa harus terus-menerus berpura-pura menjadi orang lain agar tetap dicintai.

Ada ruang untuk berkata tidak.

Ada ruang untuk memiliki pendapat yang berbeda.

Ada ruang untuk mempunyai kehidupan, minat, pertemanan, dan identitas di luar hubungan.

Coba Ubah Pertanyaannya

Saat mencari atau mengevaluasi sebuah hubungan, kita sering bertanya:

“Aku mau pasangan yang seperti apa?”

Pertanyaan itu penting. Tetapi mungkin ada pertanyaan lain yang juga layak kita ajukan:

“Aku ingin merasa seperti apa ketika berada di dalam hubungan ini?”

Apakah kita ingin merasa aman?

Didengar?

Dihargai?

Dipercaya?

Bebas menjadi diri sendiri?

Didukung untuk bertumbuh?

Atau merasa bahwa kita dan pasangan berada dalam satu tim ketika menghadapi masalah?

Pertanyaan semacam ini membantu kita melihat hubungan tidak hanya berdasarkan daftar karakteristik seseorang, tetapi juga berdasarkan kualitas relasi yang ingin kita bangun.

Pasangan Ideal dan Relasi Ideal Tidak Selalu Sama

Seseorang mungkin memenuhi banyak kriteria yang kita inginkan.

Ia menarik, mapan, menyenangkan, memiliki banyak kesamaan dengan kita, bahkan terlihat seperti sosok yang selama ini kita bayangkan.

Tetapi sebuah hubungan tidak hanya dibentuk oleh kualitas individual masing-masing orang.

Hubungan juga dibentuk oleh cara dua orang berinteraksi satu sama lain.

  • Bagaimana kalian menghadapi konflik?
  • Bagaimana kebutuhan masing-masing dikomunikasikan?
  • Apakah batasan pribadi dihargai?
  • Apakah kesalahan dapat dibicarakan tanpa saling merendahkan?
  • Apakah masing-masing memiliki kesempatan untuk bertumbuh?
  • Apakah hubungan tersebut membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri?

Karena itu, menemukan seseorang yang terlihat “ideal” belum tentu otomatis menciptakan hubungan yang sehat.

Sebaliknya, hubungan yang sehat biasanya membutuhkan proses: mengenali kebutuhan diri, belajar berkomunikasi, memahami batasan, mengelola konflik, dan membangun kepercayaan secara bertahap.

Mengenali Kebutuhan Diri Sebelum Menuntut Pasangan

Mengetahui kebutuhan emosional juga membantu kita membedakan antara kebutuhan dan cara kebutuhan tersebut dipenuhi.

Misalnya, kita membutuhkan rasa diperhatikan. Tetapi perhatian tidak selalu harus berbentuk pasangan membalas pesan setiap beberapa menit.

Kita membutuhkan rasa aman. Tetapi rasa aman tidak berarti kita harus mengetahui keberadaan pasangan setiap saat.

Kita membutuhkan kedekatan. Tetapi kedekatan tidak harus menghilangkan ruang pribadi.

Semakin kita memahami kebutuhan yang sebenarnya berada di balik keinginan kita, semakin terbuka pula kemungkinan untuk membicarakannya dengan pasangan secara lebih sehat.

Alih-alih berkata:

“Kamu nggak pernah perhatian.”

Kita mungkin bisa belajar mengatakan:

“Akhir-akhir ini aku merasa kurang terhubung denganmu. Aku ingin kita punya waktu untuk ngobrol tanpa distraksi.”

Mengenali kebutuhan tidak berarti pasangan harus selalu memenuhinya. Namun, kita menjadi lebih mampu mengkomunikasikan apa yang kita rasakan tanpa menjadikan pasangan sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas emosi kita.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Kamu Cari?

Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap orang.

Kebutuhan kita dalam hubungan dapat dipengaruhi oleh banyak hal: pengalaman sebelumnya, nilai yang kita pegang, tahap kehidupan, hingga bagaimana kita memandang diri sendiri dan hubungan.

Karena itu, sesekali kita bisa berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:

  • Apa yang membuatku merasa aman dalam sebuah hubungan?
  • Kapan aku merasa benar-benar didengar dan dihargai?
  • Hal apa yang tidak bisa aku kompromikan?
  • Batasan seperti apa yang penting bagiku?
  • Apakah aku dapat menjadi diriku sendiri di dalam hubungan?
  • Ketika terjadi konflik, bagaimana aku ingin kami menyelesaikannya?
  • Apakah hubungan yang kuinginkan memberi ruang bagi kami berdua untuk bertumbuh?

Jawabannya mungkin membantu kita memahami bahwa memilih pasangan bukan hanya tentang mencari seseorang dengan daftar karakteristik tertentu.

Kita juga sedang memilih relasi seperti apa yang ingin kita bangun bersama seseorang.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpentingnya bukan hanya:

“Apakah dia sesuai dengan kriteriaku?”

Tetapi juga:

“Ketika bersamanya, apakah kami mampu membangun hubungan yang membuat kami berdua merasa aman, dihargai, didengar, dan tetap memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri?”

Karena pasangan bukan sekadar seseorang yang kita pilih untuk menemani hidup.

Hubungan adalah sesuatu yang terus dibangun—oleh dua orang, setiap hari.